Three Months After
Buat Alicia, hari – hari setelah ia
meninggalkan Amr adalah hari – hari penuh kesedihan. Apalagi ketika matahari
mulai tenggelam. Sesibuk apapun ia di kantor, begitu sampai di apartemen
barunya, otak dan hatinya akan kembali beku secara otomatis. Ia akan melewatkan
makan malam dan kemudian akan bergelung di bawah selimut bersama kucing –
kucingnya. Menangis, meratapi kebodohan suaminya yang menghancurkan semua
impian mereka berdua. Ia kembali banyak menulis. Menuliskan semua ratapannya,
lukanya dan betapa hatinya hancur menjadi serpihan – serpihan yang tak ada
artinya lagi. Ketika ia menulis itulah sebetulnya ia sedang menolong dirinya
sendiri, karena ketika ia membaca kembali semua tulisannya, semua emosi –
emosinya, ia tersadar bahwa ada banyak hal yang memang dari awal sudah tidak
benar. Seperti soal impian bersama. Pada akhirnya ia mulai meragukan bahwa
sejak awal mereka mempunyai impian yang sama. Mungkin juga mereka pada awalnya
mempunyai impian yang sama, tapi bukankah manusia berubah. Itulah yang masih ia
cari jawabannya. Apa yang salah sehingga Amr berubah. Ia istri yang baik. Semua
tau itu. Beberapa orang bahkan mengagumi mereka berdua sebagai pasangan serasi.
Alicia masih belum bisa mengikhlaskan segalanya.
Di pagi hari ketika ia membuka
mata, hal pertama yang ia lakukan adalah menandai kalender dan bersyukur bahwa
dia masih bisa bertahan satu hari lagi, melewati hari dengan topeng kebahagian
yang harus ia pakai di tempat kerjanya. Ia masih berkirim pesan dengan Amr, meskipun
seringkali berakhir dengan sumpah serapah dan kutukan bahkan ancaman untuk melaporkan
semua kasusnya ke polisi. Hingga suatu hari, Nova, salah satu teman jurnalisnya
yang menegurnya untuk tidak terlalu vulgar mengumbar keluh kesahnya di sosial
media. Nova menyarankan untuk memproses semua tindak kekerasan dan penipuan
yang dilakukan Amr melalui jalur yang benar atau membuat profilnya menjadi
viral di sosial media. Alicia sempat mempertimbangkan semua kemungkinan yang
akan terjadi apabila ia menyetujui saran Nova, apalagi ketika situasi sedang
memanas. Namun kemudian, kembali ia berkaca apakah jika ia melakukan hal
tersebut kemudian akan membebaskannya dari rasa sakit yang ia rasa. Jawabannya adalah
tidak. Jadi yang ia lakukan adalah menulis dan menuliskan semua yang ia rasa
sebagai self-therapy untuk depresinya.
Empat puluh dua hari sudah Alicia bergumul dengan luka batinnya. Dan
di pagi ke empat puluh dua itulah ia memutuskan untuk berhenti menandai
kalender. Di hari itu ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa seberat apapun
itu, ia akan mencoba menikmati rasa sakitnya. Sama seperti rasa sakit yang ia
rasa ketika ia hang out di tempat – tempat yang biasa ia kunjungi bersama Amr. Justru,
dia semakin sering mengunjungi tempat – tempat tersebut dan membiasakan dirinya
untuk menikmati tempat itu tanpa Amr. Kehilangan Amr, cinta sejatinya, bagaikan
kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Awalnya, ia tidak bisa berfungsi
sebagaimana mestinya. Tapi, ia sadar, jauh sebelum ia memutuskan untuk
meninggalkan Amr, hubungan mereka sudah terputus, berdarah dan hanya bergantung
pada satu kata saja, rasa malu akan kegagalan. Di awal mereka bertemu, Alicia
sudah tau bahwa Amr adalah seorang player. Tapi mereka mempunyai banyak
kesamaan. Alicia seperti melihat bayangan dirinya dalam diri Amr dan ia tau Amr
merasakan hal yang sama. Mereka dipertemukan oleh rasa patah hati dan saling
menguatkan satu sama lain. Mereka sama – sama idealis, membuka hati dan saling
percaya. Sampai kemudian mereka mulai kecanduan satu sama lain dan mulai
mencintai dengan cara yang salah. Diperparah dengan kenyataan bahwa kemudian
Alicia harus bekerja di luar kota. Disinilah komitmen mulai di uji dan mereka
berdua gagal. Bukan saja mereka mulai berperang satu sama lain, tapi sejujurnya
mereka berperang melawan ego mereka sendiri. Bersama – sama, pada akhirnya
mereka menjadi versi terburuk dari diri mereka sendiri. Secara tak sadar,
mereka sama – sama sakit, mental dan emosional.
Sampai tiga bulan kemudian. Alicia
mulai menyadari bahwa ia harus mengakhiri kegilaan ini. Kegilaan yang menguasai
dirinya dan kemudian ia tularkan kepada Amr. Ia tau Amr menginginkannya,
mencintainya dengan cara gilanya, cemburu tanpa mau mengakuinya. Kota Jakarta
yang tadinya ia sebut sebagai ladang ranjau sudah tidak lagi menakutkan setelah
ia berhasil menaklukkan rasa sakitnya. Semua orang bertanya – tanya bagaimana
ia bisa bangkit sebegitu cepat dari kegelapan. Alicia selalu menjawab bahwa
semakin ia membenci Amr dan merencanakan balas dendam, semakin sedihlah ia. Karena
itu, ia memaafkan meskipun belum melupakan perbuatannya. Ia bahkan berhenti
memonitor gerak gerik Amr. Setiap ada orang yang memberinya screen shot photo
tentang status whats app Amr ataupun foto – foto Amr bersama perempuan lain,
Alicia hanya berkata bahwa Amr bebas melakukan apapun yang dia inginkan karena
mereka sudah tidak bersama lagi. Tentu saja mereka semua tidak tau, bahwa Amr
masih mengunjunginya. Bahwa mereka masih tidur bersama. Bahwa ikatan itu masih
ada dan tidak akan mudah terputus begitu saja. Hanya saja, sekarang ada batas
yang mereka berdua sama sama tau. Alicia tau begitu selesai menghabiskan waktu
bersamanya, Amr akan sibuk dengan kehidupannya sendiri. Termasuk sibuk dengan
perempuan – perempuan barunya, atau yang lebih biasa Amr sebut sebagai teman –
teman barunya. Ada kalanya, telepon – telepon Alicia tidak terangkat atau pesan
– pesannya sangat terlambat dibaca dan dibalas. Alicia mengenal Amr dengan baik
karena ia adalah bagian hidupnya selama enam tahun terakhir. Apabila bukan
pekerjaan, maka yang membuat Amr berlaku
demikian adalah kemungkinan bahwa ia sedang bersama wanita lain. Awalnya hal
itu menyakiti Alicia dan membuatnya emosi. Semua emosinya ia tumpahkan di
tulisan – tulisannya sehingga ketika saatnya Amr datang, ia bisa menyambutnya
dengan senyuman tanpa harus berperang dengannya. Baginya tulisan – tulisan itu
sudah cukup menjadi media untuk meluapkan segala emosinya.
Tiga bulan setelah perpisahan,
Alicia juga mulai menghubungi teman – teman lamanya. Menambahkan mereka ke
dalam lingkaran sosial medianya. Teman – temannya juga mulai memperkenalkannya
pada banyak teman – teman baru. Tak sedikit yang mencoba mendekati Alicia. Tapi, apa yang baru saja terjadi telah membuatnya
menutup pintu hatinya rapat – rapat. Ia menjadi sangat protektif pada dirinya
sendiri. Ia juga tak ingin menyakiti orang lain dengan memberi harapan
sementara hatinya belum siap. Alicia menjauhkan dirinya dari segala hasrat dan
keintiman. Semua ia simpan untuk kekasih hatinya. Untuk Amr. Entah terdengar
bodoh, patah hati atau putus asa, tapi setiap kali Amr datang, kekuatannya
untuk memaafkan semakin besar. Bukan hanya itu, ia merasa lebih percaya diri
menghadapi dunia. Seiring waktu, hubungan mereka membaik dengan sendirinya. Amr
tidak pernah marah lagi dengan pertanyaan – pertanyaan yang menurutnya bodoh. Alicia
tidak ingat apa yang memicunya, tapi ia ingat persis bagaimana perasaannya
setiap kali Amr datang dan menyentuhnya seperti di masa sebelum ia tau ada
banyak perempuan lain yang disentuh Amr ketika ia tak ada. Ia ingat semua hal
yang dikatakan perempuan – perempuan itu, sehingga ia meragukan apakah sentuhan
Amr berdasarkan cinta atau nafsu semata. Amr tidak pernah mengatakan apapun karena
ia selalu bilang bahwa semua penjelasannya akan sia – sia selama Alicia masih mempercayai
opininya sendiri. Sehingga kesimpulan yang akhirnya ia ambil adalah bahwa ia
akan menikmati kebersamaannya dengan Amr dan disisi lain menerima kenyataan
bahwa mereka sebetulnya sudah tidak lagi bersama.
Alicia menyadari bahwa ia dan Amr telah melakukan hal-hal yang mengerikan satu sama lain dan bahwa, terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, Alicia tidak mau hidup dengan memori yang mengerikan tentang Amr. Ia sudah pernah melihat bagaimana Amr mengatakan hal – hal buruk tentangnya pada orang – orang. Pada perempuan – perempuan itu. Bahwa ia seorang psikopat dan mengejar – ngejar Amr. Alicia membalas dengan hal yang sama. Tapi sekarang ia tidak ingin orang – orang mengingat mereka sebagai pasangan gila. Ia juga tidak mau Amr semakin rajin memberikan penilaian buruk padanya dan menceritakannya pada orang lain. Ia ingin pada akhirnya nanti ada seseorang yang merasa aman bersama Amr, bahkan setelah mengetahui masa lalunya. Alicia dan Amr sudah tidak merasa aman untuk bersama lagi. Mereka sudah mengalami krisis kepercayaan tingkat tinggi. Butuh keajaiban untuk membuat mereka berdua rukun kembali.
Alicia tersenyum memandang sosok gagah yang berjalan mendekatinya. Well...we never know what would happen in the future. She wished good luck for herself.
Alicia menyadari bahwa ia dan Amr telah melakukan hal-hal yang mengerikan satu sama lain dan bahwa, terlepas dari semua hal yang pernah terjadi, Alicia tidak mau hidup dengan memori yang mengerikan tentang Amr. Ia sudah pernah melihat bagaimana Amr mengatakan hal – hal buruk tentangnya pada orang – orang. Pada perempuan – perempuan itu. Bahwa ia seorang psikopat dan mengejar – ngejar Amr. Alicia membalas dengan hal yang sama. Tapi sekarang ia tidak ingin orang – orang mengingat mereka sebagai pasangan gila. Ia juga tidak mau Amr semakin rajin memberikan penilaian buruk padanya dan menceritakannya pada orang lain. Ia ingin pada akhirnya nanti ada seseorang yang merasa aman bersama Amr, bahkan setelah mengetahui masa lalunya. Alicia dan Amr sudah tidak merasa aman untuk bersama lagi. Mereka sudah mengalami krisis kepercayaan tingkat tinggi. Butuh keajaiban untuk membuat mereka berdua rukun kembali.
Tak lama setelah bubarnya hubungannya yang kedua, Alicia kembali merokok dan juga minum terlalu banyak. Ada saat ia tidak ingat bagaimana ia bisa kembali ke kamar hotelnya ketika ia mencuri - curi waktu di sela – sela kesibukannya untuk hang out bersama teman – teman lamanya. Niat awalnya hanyalah sebagai alat sosialisasi, tapi kemudian hal itu menjadi sebuah pelarian dan akhirnya ia sampai pada di suatu titik bahwa ia bukan kecanduan pada rokok atau alkohol, tapi ia kecanduan pada AMR. Alicia selalu berpikir bahwa ia perlu belajar untuk mencintai lagi setelah kegagalan pertamanya, tetapi ternyata tidak. Mencintai Amr tidak sulit, karena Amr adalah cerminan dirinya. Amr adalah dirinya versi laki – laki dan karena dia pernah gagal maka dia berusaha untuk membuat hubungannya kali ini sempurna. Alicia tau ia tidak sempurna, sehingga ia mencoba menyempurnakan Amr. Awalnya Amr mengikuti semua yang ia mau, karena ia kurang bisa mengambil kontrol dalam rumah tangga dan ia belum paham cara hidup di Indonesia. Hingga ada campur tangan orang – orang yang membuat keadaan jadi tak terkendali. Alicia ingin membuat Amr tampak sebagai penyelamat dari rasa tidak aman yang ia dapat dari hubungan sebelumnya. Tapi itu semua salah besar. Amr hanya manusia biasa, ia bukan malaikat yang bisa menjadi laki – laki ideal seperti yang Alicia mau; seorang ulama. Itulah saat ia sadar bahwa yang tadinya dia pikir cinta, sebetulnya bukanlah cinta tapi lebih pada rasa ego untuk menciptakan sosok suami ideal. Ia tidak pernah benar – benar mencintai Amr dari awal.
Apa yang Alicia lakukan untuk membentuk Amr sebagai sosok ideal, juga ia lakukan pada dirinya sendiri. Dan ketika ia gagal, maka ia marah dan mencurahkan sumpah serapah pada Amr. Amr selalu menyebutnya sakit, pada kenyataannya mereka berdua sama – sama sakit karena trauma kegagalan masa lalu. Alicia menyesali begitu banyak waktu yang terbuang untuk menjadi sempurna dan menciptakan laki laki sempurna, hubungan sempurna dan mengesampingkan kebahagian Amr. Sekarang ia sadar bahwa cinta tidak datang dari orang lain. Cinta datang dari dalam dirinya sendiri.
Ketika ia bisa menerima kegagalan, kekurangan dan kelemahan Amr, itulah pertama kalinya Alicia benar – benar mencintai Amr. Alicia mencintainya tanpa syarat dimana ia ingin Amr bahagia, dengan atau tanpanya. Ketika akhirnya ia mencintai Amr seperti itu, ia tidak membutuhkan Amr untuk menjadi miliknya. Ia tidak membutuhkan Amr untuk menjadi bagian dari kisah sedihnya lagi. Amr punya kisahnya sendiri. Amr lebih penting dari sekedar peran dalam drama panggung Alicia.
Pada akhirnya, Alicia menyadari bahwa ia menghabiskan waktu enam tahun mendambakan sebuah keluarga sempurna, yang kemudian ia paksakan gambaran kesempurnaan itu pada Amr. Ia pikir ia patah hati karena kehilangan Amr, tetapi tidak. Ia sedih karena ia kehilangan ‘cinta’ yang ia pikir berasal Amr. Tapi cinta tidak datang dari Amr, cinta datang dari dalam dirinya sendiri. Alicia mulai lebih sering menulis, dan ber yoga. Mantan suami pertamanya adalah seorang psikolog sebelum akhirnya terjun ke dunia tambang. Alicia banyak mendapat ilmu tentang bagaimana memaafkan dan megatasi emosi ketika mereka masih sama sama di bangku kuliah dulu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di suatu waktu, ia akan mengalami kejadian seperti ini dan akhirnya menggunakan ilmu kejiwaan tersebut.
Sekarang, Alicia bisa merasakan perasaan cinta ketika melihat matahari terbenam. Ia bisa lebih rilex hang out dengan teman – temannya, tertawa lepas dan kecantikan alaminya semakin terpancar. Alicia adalah gadis pemberani. Ia sekarang bisa membedakan cinta dan kecanduan. memang di dunia ini ada laki – laki dan perempuan yang diciptakan sebagai candu duniawi dan Alicia sangat bahagia bahwa dia bisa melihat Amr sebagai sahabat, bukan sebagai candu lagi. Dan ia berharap Amr bukan melihatnya sebagai sebuah obsesi lagi. Ia bersyukur, bahwa patah hatinya kali ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk tumbuh menjadi lebih dewasa, memaafkan semua orang – orang yang terlibat dalam hubungannya dengan Amr, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Rasa sakit itu tentu pasti ada, karena itu adalah bagian dari rasa kehilangan. Tapi Alicia cukup cerdas dan bijak untuk mengolah rasa sakitnya menjadi sebuah hal yang positif. Ia kehilangan sebuah hubungan, tapi ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan cinta. Ia belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri, mencintai Tuhan, mencintai binatang – binatang di sekitarnya sebelum dia mencintai seorang laki – laki. Ia belajar membuka mata untuk mencintai dunia dan isinya dan Sang Pencipta, karena patah hati bukanlah akhir dari segalanya. Patah hatinya justru akan memperkuat hubungan yang nanti akan dia punya di masa depan.
Comments
Post a Comment