The Good Times
Ketika akhirnya sampai di shopping mall, Alicia mengubah niatnya untuk langsung belanja. Alih – alih menuju ke Carrefour di ground floor, dia malah ke lantai satu dan masuk ke sebuah coffee lounge. Sebuah kafe yang menyimpan banyak kenangan. Dulu, dia adalah pelanggan reguler yang hampir setiap hari datang ke kafe itu setelah jam kerja, bahkan saat weekend. Segera setelah dia duduk di sudut favoritnya, seorang waiter datang menghampiri dan mencatat pesanannya. Kafe itu sudah banyak berubah. Bukan saja hampir semua waiter nya (kecuali si mbak kasir yang masih mengenalinya), tapi juga beberapa furniture dan dekorasi dindingnya. Dulu hampir semua tempat duduknya adalah sofa – sofa empuk. Sekarang beberapa sofa sudah tergantikan oleh bangku bangku berbantal bulu.
Di tempat inilah Alicia bertemu suaminya kurang lebih 6 tahun yang lalu. Dia masih ingat hari dimana dia menikmati kesempatan menjadi lajang untuk sekali lagi. Dia masih ingat bagaimana dia mengumpat pelan ketika melihat tempat duduk favoritnya sudah terisi. Dia menoleh ke sudut kiri dan melihat masih ada tempat duduk kosong, meskipun mejanya kecil. Dari tempat duduknya, dia bisa segera pindah apabila si bule yang sekarang duduk di tempat favoritnya itu pergi. Setelah absen mengunjungi kafe itu karena liburan ke Thailand selama dua minggu, siang itu dia memang sengaja datang karena bosan di rumah sendirian. Kafe itu tidak terlalu besar dan ramai. Justru itu yang dia cari, karena dia bisa sedikit berganti suasana dan tetap focus mengerjakan deadline pekerjaan paruh waktunya sebagai seorang freelance editor di sebuah travel magazine.
Tak lama setelah dia duduk dan sibuk mengatur barang barangnya, cappuccino pesanannya diantar oleh waiter. Cappuccino dengan satu kantung brown sugar dan dua kantung white sugar. Hampir semua barista dan waiter yang bekerja di kafe itu mengenalnya dengan baik. Bahkan mereka tahu bagaimana menyajikan pesanannya. Mereka tahu untuk teh dia selalu minta kantung tehnya dibuka dan disajikan dengan irisan jeruk limau.
Karena meja itu kecil, beberapa kali dia menjatuhkan korek api atau rokoknya dan dia tidak sadar bahwa bule berkaus pink itu diam diam memperhatikannya. Hari itu Alicia mengenakan celana blue jins, tank top putih dan blazer hitam berlengan ¾, tanpa make up kecuali lipgloss beraroma cherry kesukaannya. Meskipun pekerjaan paruh waktunya adalah seorang freelance editor, tetapi pekerjaan sebenarnya adalah seorang assisten kepala sekolah di sebuah sekolah swasta terkenal di Jakarta. Tetapi berhubung kepala sekolahnya merupakan pemilik sekolah, maka pekerjaannya lebih mirip sebagai personal assistant. Dia bukan hanya mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk mengajar, tetapi juga membantu beliau mengerjakan tugasnya. Untungnya dia suka bekerja dikelilingi anak – anak dan pekerjaan adalah satu satunya pelarian dari masalah rumah tangganya.
Ketika sedang asik membalas beberapa email, tiba – tiba si bule berkaos pink itu sudah berdiri disebelahnya.
“Excuse me. Don’t be afraid I am not a terrorist,” dia mencoba melucu tapi justru terdengar sebaliknya. Alicia memang sedikit takut karena waktu itu sedang heboh hebohnya berita tentang terorisme. Alicia memasang muka serius yang membuat si bule itu sedikit salah tingkah. “May I help you?’ tanya Alicia.
Kemudian si bule memberinya sebuah USB dan mengatakan bahwa ada file di dalamnya yang tidak bisa terbaca. Intinya dia minta tolong Alicia untuk merubah file tersebut menjadi file PDF. Alicia gadis yang baik. Sebelum sempat berpikir apapun, dia secara spontan mencolokkan USB itu ke notebooknya dan menconvert file yang diminta. Tak sampai semenit dia melepas kembali USB itu dan memberikannya kembali pada si bule. Setelah menerima USB nya kembali, bukannya mengucapkan terima kasih dan segera pergi, dia mengeluarkan kartu nama dan menunjuk nama yang tertera pada kartu itu.
“My name is AMR…be careful when you pronounce it. It’s not AMIR” dia mengajari Alicia cara menyebut namanya. Alicia mengulang namanya beberapa kali dan jelas terlihat kalau si bule itu ingin dia tau bahwa dia bekerja di industri penerbangan. Alicia tidak tertarik dengan title Vice President untuk wilayah Timur Tengah di bawah nama yang tertera pada kartu nama itu. Apalagi meskipun muka bule itu tidak mirip orang Timur Tengah, tapi namanya terdengar sangat demikian. Alih – alih menerima kartu itu, Alicia berbasa basi menawarkan kursus Bahasa Indonesia untuknya. Setelah beberapa menit berbasa basi dan mendapatkan nomor Alicia, akhirnya si bule itu kembali lagi ke tempat duduknya, karena Alicia bahkan tidak menawarkan dia untuk duduk bersamanya. Ya, dia tidak tertarik sama sekali dengan laki laki pendek berperut buncit, bermuka kucel bak gigolo yang baru saja menggelar pesta sex semalaman. Beberapa saat kemudian Alicia menerima pesan dari bule itu berupa ajakan makan siang. Alicia dengan sopan menolaknya dan bule itu tampak kehilangan rasa percaya dirinya atau mungkin juga tersinggung karena kemudian dia pergi dari kafe itu tanpa mengucap salam bahkan tanpa menengok kearahnya sama sekali.
Begitulah dia bertemu Amr, suaminya. Dia masih ingat bagimana setelah itu Amr berkali – kali mengundangnya untuk sekedar ngopi atau makan malam di Belleza Apartment, tempat dia berbagi apartemen dengan teman bisnisnya yang seorang pilot. Sampai suatu malam, Maialah yang meyakinkan dia untuk mencoba memenuhi undangan makan malam itu. Dia bilang tidak ada salahnya untuk membuka hati dan kembali mempercayai laki – laki. Alicia bukan perempuan bodoh. Dia mencari tau siapa Amr dengan mengetik namanya di google. Hasilnya sangat mengejutkan karena dia ada di semua sosial media dan dating sites yang paling popular saat itu. Bahkan dia mempunyai beberapa account facebook dan Alicia bisa melihat bagaimana dia bertukar komentar dengan banyak wanita dari segala penjuru dunia. Dia bahkan melihat foto anak – anaknya yang lucu. Tidak berhenti sampai disitu, dia berusaha mencari tau apakah laki – laki ini beristri atau tidak karena dia tidak menemukan satupun foto pernikahan ataupun account dan foto istrinya. Ketika dia menceritakan hal ini pada Maia, dia memberikan komentar yang sangat rasional, “Tanya langsung sama orangnya.” Alicia takut tapi sekaligus penasaran. Amr bukan tipenya sama sekali, tapi entah dia merasa ingin membuktikan semua perkataan laki – laki itu bahwa dia tidak punya maksud buruk terhadapnya. Sebagian dari dirinya menginginkan petualangan sebetulnya, setelah sekian lama dia menjadi istri yang baik dari seorang laki – laki yang tidak bisa memahami bagaimana caranya menghargai perempuan. “It should be nothing to lose, Alicia. Cobalah, siapa tau meskipun dia playboy tapi dia bisa menjalin hubungan serius denganmu. Aku rasa dia punya masalah dengan istrinya. Jajakilah dulu. Cuma kalau memang dia beristri, ya..kamu nggak usah temuin dia lagi.” kata Maia. Aliciapun akhirnya membulatkan tekad untuk memenuhi undangan makan malam lelaki berumur 36 tahun itu.
Alicia sudah lupa detail pertama kali dia ada di apartemen Amr. Seingatnya, Amr datang ke kafe untuk menjemputnya setelah dia menunggu hampir dua jam. Amr terus mengiriminya pesan bahwa dia masih terjebak dalam meeting yang katanya tidak ada ujung pangkalnya. Ketika akhirnya dia datang, Alicia sebetulnya mencium sesuatu yang tidak beres karena meskipun dia memakai kemeja rapi, tapi dia berkeringat dan wajahnya tampak seperti baru bangun tidur. Sepertinya Amr bisa membaca pikirannya karena kemudian dia berkata bahwa dia dan temannya cukup lama di jalan berganti – ganti taxi dari kantor satu ke kantor yang lainnya. Alicia tidak bertanya lebih jauh, tapi dia mencatat, mengamati dan menilai semua yang dikatakan Amr. Sebelumnya dia bilang bahwa dia tinggal dengan Nico, kakaknya yang seorang pilot. Tapi kemudian dia meralat ucapannya bahwa Nico, adalah teman dekatnya yang sudah dia anggap seperti saudara dan hari itu Nico ingin berkenalan dengannya.
Apartemen itu cukup besar dengan dua kamar tidur. Satu kamar tidur utama milik temannya yang jarang ada disitu dan satu kamar lagi yang lebih kecil dengan ranjang yang hanya cukup untuk seorang saja. Di sofa terlihat ada sebuah blazer hitam yang cukup besar. Milik wanita. Ukuran XXL dan terbuat dari kain murahan. Di meja ada dua gelas wine. Alicia memandang Amr dengan penuh tanya. Amr menjelaskan padanya bahwa Nico, temannya yang pilot itu baru saja meeting dengan koleganya dan sekarang mereka pergi keluar. Beberapa bulan setelah menikah di tahun berikutnya, Alicia baru mengetahui cerita sebenarnya tentang pemilik blazer dan dua gelas wine yang misterius itu. Cerita itu cukup menyakitkan tapi cinta memang buta, sampai detik ini dia bisa memaafkan semua kenakalan Amr sebelum menikahinya dan memakluminya dengan penuh keikhlasan.
Dia berusaha keras mengingat detail bagaimana dia bisa ada di ranjang besar di kamar utama itu. Tapi dia bahkan tidak bisa mengingat kapan hal itu terjadi. Apakah di makan malam pertama itu atau di pertemuan berikutnya. Yang dia ingat hanya kilasan samar dia mengenakan lingerie hitam berbunga bunga merah dan entah kenapa dia bisa membawa lingerie ketika datang ke apartemen Amr. Berikutnya yang dia ingat, mereka berciuman di sofa. Ciuman yang lembut yang dia rasakan dan dia balas dengan semua panca indranya. Amr menarik tubuh Alicia ke atas tubuhnya. “Why are you so shy? Take a look at my eyes.” Amr memegang muka Alicia dan memaksanya untuk menatap matanya. Alicia malu. Ya..dia malu karena dia tahu dia berbuat dosa. Dia malu karena ini pertama kalinya dia akan telanjang bulat di depan laki – laki yang bukan suaminya. Tapi Amr menciumnya lagi. Lembut dan manis. Amr menurunkan tubuhnya dan menggandengnya menuju kamar utama. Alicia merebahkan dirinya di ranjang yang besar itu. Bed covernya terasa lembut dikulitnya. Amr mengamatinya sejenak sebelum akhirnya dia menerkamnya. Ya…menerkam dalam arti yang sebenarnya. Dia masih menciumi Alicia dengan lembut berusaha menahan kejantanannya yang sudah hampir meledak di balik celana dalamnya.
Alicia tidak ingat apakah dia sempat mencapai puncak kenikmatan bersamanya atau dia membiarkan Amr memuaskan dirinya sendiri dulu. Dia terlalu malu untuk membuka matanya. Hingga semuanya berakhir dan Amr memeluk tubuh Alicia, memaksanya untuk memandang matanya dan bertanya apa yang salah sehingga dia sangat malu dan tidak mau membuka mata selama bercinta. Tentu saja Alicia tidak menjawab yang sebenarnya. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia malu karena telah melakukan dosa. Yang keluar dari mulutnya adalah jawaban bahwa dia malu akan tubuhnya yang tidak indah. Tapi Amr menjawab bahwa dia menyukai tubuh berisi Alicia. Alicia tersenyum karena dia tidak mempercayai jawaban itu. Dia sudah melihat isi facebook Amr dimana semua kolom komentarnya dipenuhi wanita wanita sexy dan cantik.
Ketika dia mandi, dia melihat beberapa barang barang wanita di toilet. Amr seperti bisa membaca pikirannya ketika dia masuk untuk ikut bergabung dengannya di bathub. Dia berkata itu milik Revalyn, calon istri Nico. Alicia hanya tersenyum. Apalah yang bisa dikatakannya karena bahkan bila Amr bohongpun, Alicia tidak akan pernah tau. Dia tidak dan belum mengenal Amr kecuali dari potongan potongan informasi yang dia dapat dari sosial media.
Comments
Post a Comment