Mr. X
Dia resign.
Tidak ada drama. Tidak ada penyesalan. Hanya sebuah email singkat yang sudah dia kirim beberapa menit yang lalu. Ketika laptopnya tertutup, Alice merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan akhir-akhir ini - lega.
Selama beberapa tahun terakhir, pekerjaannya terasa semakin tidak manusiawi. Koreksian yang tidak masuk akal, karena hasilnya kurang efektif buat anak didiknya dan juga tipe pengajaran yang sangat text book - yang sangat berbeda jauh dengan gaya mengajarnya - yang sudah terbukti selama 20 tahun membawa banyak perubahan di dunia pendidikan yang dia geluti.
Tubuhnya mulai memberi peringatan.
Me time yang dulu selalu dia jaga kini hampir tidak ada.
“Aku butuh hidupku kembali,” gumamnya pelan.
Untungnya, dia tidak benar-benar memulai dari nol.
Beberapa tahun terakhir Alice membangun bisnis kecil di bidang pendidikan. Sebuah program kursus bahasa yang fokus pada corporate teaching—mengajarkan bahasa Inggris dan komunikasi profesional kepada karyawan perusahaan dan juga layanan bimbingan belajar.
Bisnis itu berjalan cukup baik.
Namun sekarang, setelah keluar dari pekerjaannya, Alice ingin mencari peluang baru. Mungkin kolaborasi, mungkin klien baru, atau bahkan proyek bisnis yang lebih besar.
Pikirannya langsung tertuju pada satu platform yang sudah lama dia tinggalkan.
LinkedIn.
Alice hampir tertawa kecil ketika melihat halaman login.
Sudah hampir sepuluh tahun sejak terakhir kali dia aktif di sana.
Profil lamanya masih ada. Foto profesional yang diambil ketika dia masih bekerja di sebuah perusahaan energi dan agrikultur di Singapura masih terpampang di sana.
Notifikasi bermunculan.
Lalu satu pesan baru yang dikirim hari ini.
Nama pengirimnya membuat jantungnya berhenti sejenak.
Teuku Arman Mahendra.
Alice bersandar pelan di kursinya.
Nama itu langsung menariknya kembali ke masa lalu.
Tujuh tahun lalu, hidupnya sedang berantakan.
Dia baru saja putus dari Amr. Hubungan mereka saat itu penuh emosi, penuh pertengkaran, dan akhirnya berakhir dengan jarak yang dingin.
Alice mencoba melarikan diri ke pekerjaannya.
Saat itu dia bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang oil and gas. Lingkungannya internasional, penuh koneksi bisnis, dan LinkedIn menjadi salah satu tempat yang sering dia gunakan untuk membangun relasi profesional.
Di situlah Arman pertama kali menghubunginya.
Awalnya hanya percakapan bisnis.
Arman mengatakan bahwa perusahaannya sedang mengembangkan beberapa proyek di Asia Tenggara dan ingin mendiskusikan kemungkinan kerja sama.
Percakapan mereka mengalir dengan mudah.
Beberapa minggu kemudian, sebuah pesan muncul.
Would you join me for dinner tonight? We could continue the discussion there.
Alice masih ingat bagaimana dia menatap pesan itu cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
Yes.
Malam itu dia tiba di restoran hotel sedikit lebih dulu.
Namun ketika pintu restoran terbuka, seseorang sudah berdiri di sana.
Arman.
Untuk beberapa detik Alice hanya bisa menatapnya.
Dia tinggi, jauh lebih tinggi dari yang Alice bayangkan. Tubuhnya tegap dan atletis, dengan bahu lebar dan postur yang sangat percaya diri.
Wajahnya tampan dengan cara yang maskulin.
Rahang tegas, kulit sedikit kecokelatan, dan mata yang tajam namun hangat ketika menatapnya.
“Alice,” katanya sambil tersenyum.
Suara Arman rendah dan tenang.
Makan malam mereka berlangsung jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Percakapan mereka berpindah dari bisnis ke hal-hal yang lebih personal. Arman bercerita tentang ambisinya membangun sesuatu yang besar di Indonesia.
Sebuah perusahaan penerbangan yang suatu hari nanti ingin dia dirikan.
Di tengah percakapan, Arman mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
Alice mengangkat alis.
“Apa ini?”
“Hadiah kecil,” jawabnya santai.
Di dalam kotak itu ada kalung tipis dengan liontin kecil yang elegan.
“Kenapa kau memberiku ini?” tanya Alice, setengah tertawa.
Arman hanya tersenyum.
“Karena aku ingin.”
Ketika dia membantu memasangkan kalung itu, jari-jarinya menyentuh kulit Alice dengan sangat lembut.
Mereka berdiri sangat dekat.
Tatapan Arman berubah lebih dalam.
Dan tanpa banyak kata - dia mencium bibir Alice.
Namun tepat setelah itu - telepon Arman berdering.
Arman melihat layar ponselnya dan ragu sejenak sebelum mengangkatnya.
“Hello?”
Beberapa detik kemudian nada suaranya berubah.
Lebih lembut.
“Ya… aku masih di luar.”
Alice tidak perlu mendengar semuanya untuk mengerti.
Perempuan di ujung telepon itu jelas istrinya.
Malam itu tetap berlanjut dengan sopan. Namun di dalam hati Alice, keputusan sudah dibuat.
Dia tidak ingin menjadi rahasia seseorang.
Setelah malam itu, dia tidak pernah membalas pesan Arman lagi.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, Alice dan Amr akhirnya kembali bersama.
Hubungan mereka lebih dewasa kali ini.
Dan akhirnya mereka menikah.
Namun suatu malam, beberapa bulan lalu, Amr pulang dari sebuah meeting bisnis di Jakarta.
Alice yang sedang duduk di sofa langsung mengangkat kepala.
“Arman?” tanyanya.
“Ya… Teuku Arman Mahendra.”
Untuk sesaat Alice hanya diam.
Lalu dia tertawa kecil, hampir tidak percaya.
“I know him.”
Amr berhenti bergerak.
“You know him?”
Alice mengangguk.
“Dulu. Waktu aku masih kerja di Oil and Gas company itu.”
Dia kemudian menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Arman menghubunginya di LinkedIn. Tentang project yang mereka bicarakan. Tentang dinner yang hampir terasa seperti kencan.
Amr mendengarkan tanpa menyela namun ekspresi Amr jelas berubah.
Alisnya terangkat.
“So you wanted to find someone to fuck for sure?”
Alice mengangkat bahu kecil.
“No. You know I am not the kind. I am looking for the chance to get a good catch."
Amr menatapnya beberapa detik lebih lama.
Ada sesuatu di wajahnya yang Alice kenali.
Cemburu.
Amr tau bahwa Alice tidak secantik wanita - wanita yang pernah bersamanya tapi Alice mempunyai sesuatu yang diinginkan semua pria. Karena itu entah bagaimana, mereka yang berhubungan dengan Alice bukan pria sembarangan dan berasal dari kalangan atas. Alice tulus dan keibuan. Dia juga lucu dan bisa manja. Bersamanya serasa ada di tempat yang nyaman yang disebut "rumah". Alice juga sexy dengan cara yang tidak biasa. Amr mencintainya. Alice adalah fun crazy partnernya ketika meraka masih muda, teman curhatnya, dan meraka sudah melakukan banyak pesta - pesta yang mungkin jauh dari yang bisa dibayangkan orang yang melihat imagenya sebagai seorang yang bekerja di dunia pendidikan.
“OK. enough I don't want to hear anything." dan Alice pun diam tidak pernah menyinggung nama Arman lagi yang di hapenya dia simpan dengan nama Mr. X.
Kini, duduk di depan laptopnya, Alice kembali menatap layar LinkedIn.
Profil Teuku Arman Mahendra terbuka di depannya.
Ternyata perusahaan yang dulu hanya dia ceritakan saat makan malam itu benar-benar ada sekarang.
Sebuah perusahaan penerbangan baru di Indonesia.
Namun ada satu catatan kecil di halaman perusahaan.
Belum terverifikasi sepenuhnya.
Artinya mereka masih belum bisa benar-benar beroperasi.
Alice tersenyum kecil.
Tujuh tahun lalu, Arman hanyalah seorang pria dengan mimpi besar.
Sekarang dia adalah CEO sebuah maskapai.
Di layar laptopnya, pesan dari Arman masih belum dibuka.
Kursor berkedip pelan.
Alice menarik napas.
Lalu akhirnya—
dia membuka pesan itu.
Comments
Post a Comment